Akupun termangu diatas meja dikelasku.
Huft.. sudah berapa kali Bu Nur memberikan banyak tugas menumpuk seperti ini?
sepertinya hampir setiap pekan beliau memberikan tugas disetiap minggu setelah
mata kuliahnya usai. Sampai kapan akan terus seperti ini? makalah, makalah,
makalah. Oh Tuhan.. kapan berakhir tugas ini? bosan rasanya jika setiap minggu
selalu ada tugas menumpuk diatas mejaku. Akupun mulai membuka buku dengan
sedikit enggan. Mampukah otakku berfikir jernih. Bisakah dalam keadaan seperti
ini?
Kelas
hampir sepi, hanya tinggal beberapa temanku yang masih berada dikelas. Mas yang
biasa memberesi kelasku setelah mata kuliah berakhirpun masuk, memulai tugasnya
untuk membersihkan kelasku yang terlihat sedikit berantakan dengan banyak
kertas yang terserak dibawah. “Bosan, bosan, bosan. Tugas, tugas, tugas. Tiap
hari sepertinya ada saja tugas yang diberikan dosen. Dari mulai senin hingga
jum’at tiada hari tanpa tugas”, terdengar keluhan nyata yang keluar dari mulut
temanku, ketika hendak meninggalkan kelas.
“Bodoh!
Bodoh sekali anak itu! mendapatkan ilmu bukannya bersyukur, malah mengeluh. Tak
tahu diri dia!”, celetuk mas yang sedang membersihkan kelasku itu. Aku yang
masih terfokus dengan bukuku, tak menghiraukan omongannya. “Iya gak neng?”,
terdengar suara yang membuyarkan arah mataku dari buku. Kukira mas itu sedang
berbincang dengan oranglain, ternyata ketika kulihat disekelilingku hanya
tinggal aku sendiri yang berada didalam kelas itu. Akupun diam seribu bahasa,
tanpa menjawab kalimat orang tersebut. Aku yang berusaha tersenyum ketika orang
itu berusaha menengok kearahku untuk meminta jawaban atas pertanyaannnya,
meskipun dalam senyumanku terdapat sebuah perang hati antara akal dan hatiku.
Tuhan..
baru aku sadari aku hanyalah manusia yang selalu merasa lelah dengan tugas. Aku
yang selalu mengeluh dengan setiap tugas yang ada, tanpa bersyukur atas ilmu
yang telah Engkau berikan melalui setiap dosenku. Seharusnya aku yang haus akan
ilmu, berusaha untuk bersyukur jika banyak tugas yang menumpuk diatas mejaku,
bukannya malah menggerutu menyalahkan seseorang yang sudah memberikan begitu
banyak ilmunya untukku. Tuhan.. maafkan atas kekhilafanku ini. Aku hanyalah seongok daging yang Kau ciptakan
dengan hasrat haus akan ilmu, tak sepantasnya aku mengeluh, Tuhan. Engkau yang
mengetahui baik-buruknya segala urusan yang aku lakukan. Engkau yang mengetahui
urusan ini baik bagiku, agamaku serta hidupku, dan urusanku. Mudahkanlah dan
limpahkanlah rahmat bagiku atas ilmu yang kau berikan melalui perantara yang
kau ridhoi, Tuhan. Amin ya robbal alamiin~
dengan editan cerita yang dikemas sedikit berbeda





