Entah sudah berapa kali aku berbohong
pada hatiku tentang cinta. Fitrah yang selalu ada dalam hati setiap hamba-Nya.
Akankah aku harus membohongi hati ini untuk kesekian kalinya, hanya untuk
menahan rasa sakit yang ada? Dzholimkah
aku terhadap hati ini, Robbi?
Kebahagiaan yang selalu aku simpan dalam lubuk hatiku. Rindu yang selalu
tersembunyi dalam dasar hatiku. Cemburu yang selalu aku terpendam. Riskan yang
ada untuk setiap seseorang yang mengagumi pemuda itu. Aku hanya tak mampu
membuat sakit hati seseorang dari kaumku dengan benih cinta yang tumbuh
disetiap harinya. Aku juga yang tak mampu menahan rasa sedihku ketika
mengetahui akan bertambah banyak dari kaumku yang mengagumimu disetiap harinya.
Izinkan aku menyimpan cinta ini tanpa khalwat
yang nyata, Robbi..
Pemuda yang tampan akhlaqnya. Ya, dia.
Dia yang selalu membuatku terpaku dengan perawakannya ketika berpapasan. Dia
yang selalu tegas dalam mengambil kebijakan yang bijaksana. Dia yang membuatku
terpukau dengan setiap akhlaqul karimah yang
diperbuatnya. Dia yang selalu empati terhadap sesamanya. Kharisma sejuk yang
terasa ketika dia lewat. Ketampanan rupanya yang membuat setiap wanita yang
mengenalnya jatuh cinta kepada pemuda itu. Salahkah aku cemburu kepada setiap
wanita yang mengaguminya, padahal dia sendiri tak tahu bagaimana perasaanku
terhadapnya? Pantaskah cemburu itu ada dihatiku?
Aku berusaha menyembunyikan perasaanku
terhadapnya, selalu. Tersembunyi paling dasar hatiku tanpa aku berharap tanpa
ada orang yang tahu. Aku tak ingin Tuhanku cemburu dengan cinta yang ada ini. Aku
tak ingin mencintai makhluk-Nya melebihi pencipta-Nya. Biarkan jarak ini
terhijab dalam sucinya kediaman yang ada. Biarkan rasa cemburu ini hanya ada
dalam hati untuk setiap curahan hatiku melalui do’a pada-Nya. Cemburu setiap
aku mengetahui ada saja seseorang dari kaumku yang mengaguminya, atau bahkan
mencintainya. Seandainya ada kebahagiaan ketika berpapasan dengannya, biarkan
kebahagiaan yang baru kurasakan hari ini, biarkan itu hanya menjadi kebahagian dalam
hatiku yang akan kuabadikan dalam do’aku.
Robbi..
aku percaya pada setiap kehendakmu. Kenapa aku harus memusingkan urusan rezeki,
kematian, serta pangeranku yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz? Aku percaya bahwa diamnya cinta tak akan matikan
rasa, justru ia akan arahkan rasa agar tiada pilu meredam. Aku percaya bahwa
diantara diamnya cinta ada cinta-Mu ada disana. Aku percaya bahwa diamnya cinta
menumbuhkan sebuah ridho dari-Mu. Tak ada yang perlu disesalkan. Tak ada yang
perlu dirisaukan.
Mengapa Allah
menciptakan jarak antara kita? Karena kuyakin Allah ingin agar kita saling
menjaga dalam do’a walau jarak dan waktu
yang memisahkan. Biarkan jarak ini menjadi pembelajaran untuk
mengajarkan sebuah arti pengertian, kejujuran, dan kesetiaan yang hakiki hanya
pada-Nya. Sekuat apapun kau berusaha menunggu, setia, mempertahankan cinta yang
kau miliki saat ini untuk seseorang yang kau cintai. Sekalipun kau menolak,
membenci seseorang, jika Allah telah berkehendak engkau bersamanya dengan ikatan
yang halal, engkau takkan bisa menghindar dan mengelak takdir-Nya. Robbi..
Aku percaya jika Engkau meridhoi suatu cinta, Engkau tak akan menggerakkan
hanya satu hati dalam satu waktu, tapi engkau akan menggerakkan hati keduanya
untuk saling bertemu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar