HOME

Minggu, 15 Desember 2013

Cinta Tanpa Khalwat


Entah sudah berapa kali aku berbohong pada hatiku tentang cinta. Fitrah yang selalu ada dalam hati setiap hamba-Nya. Akankah aku harus membohongi hati ini untuk kesekian kalinya, hanya untuk menahan rasa sakit yang ada? Dzholimkah aku terhadap hati ini, Robbi? Kebahagiaan yang selalu aku simpan dalam lubuk hatiku. Rindu yang selalu tersembunyi dalam dasar hatiku. Cemburu yang selalu aku terpendam. Riskan yang ada untuk setiap seseorang yang mengagumi pemuda itu. Aku hanya tak mampu membuat sakit hati seseorang dari kaumku dengan benih cinta yang tumbuh disetiap harinya. Aku juga yang tak mampu menahan rasa sedihku ketika mengetahui akan bertambah banyak dari kaumku yang mengagumimu disetiap harinya. Izinkan aku menyimpan cinta ini tanpa khalwat yang nyata, Robbi..
Pemuda yang tampan akhlaqnya. Ya, dia. Dia yang selalu membuatku terpaku dengan perawakannya ketika berpapasan. Dia yang selalu tegas dalam mengambil kebijakan yang bijaksana. Dia yang membuatku terpukau dengan setiap akhlaqul karimah yang diperbuatnya. Dia yang selalu empati terhadap sesamanya. Kharisma sejuk yang terasa ketika dia lewat. Ketampanan rupanya yang membuat setiap wanita yang mengenalnya jatuh cinta kepada pemuda itu. Salahkah aku cemburu kepada setiap wanita yang mengaguminya, padahal dia sendiri tak tahu bagaimana perasaanku terhadapnya? Pantaskah cemburu itu ada dihatiku?
Aku berusaha menyembunyikan perasaanku terhadapnya, selalu. Tersembunyi paling dasar hatiku tanpa aku berharap tanpa ada orang yang tahu. Aku tak ingin Tuhanku cemburu dengan cinta yang ada ini. Aku tak ingin mencintai makhluk-Nya melebihi pencipta-Nya. Biarkan jarak ini terhijab dalam sucinya kediaman yang ada. Biarkan rasa cemburu ini hanya ada dalam hati untuk setiap curahan hatiku melalui do’a pada-Nya. Cemburu setiap aku mengetahui ada saja seseorang dari kaumku yang mengaguminya, atau bahkan mencintainya. Seandainya ada kebahagiaan ketika berpapasan dengannya, biarkan kebahagiaan yang baru kurasakan hari ini, biarkan itu hanya menjadi kebahagian dalam hatiku yang akan kuabadikan dalam do’aku.
Robbi.. aku percaya pada setiap kehendakmu. Kenapa aku harus memusingkan urusan rezeki, kematian, serta pangeranku yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz? Aku percaya bahwa diamnya cinta tak akan matikan rasa, justru ia akan arahkan rasa agar tiada pilu meredam. Aku percaya bahwa diantara diamnya cinta ada cinta-Mu ada disana. Aku percaya bahwa diamnya cinta menumbuhkan sebuah ridho dari-Mu. Tak ada yang perlu disesalkan. Tak ada yang perlu dirisaukan.
Mengapa Allah menciptakan jarak antara kita? Karena kuyakin Allah ingin agar kita saling menjaga dalam do’a walau jarak dan waktu  yang memisahkan. Biarkan jarak ini menjadi pembelajaran untuk mengajarkan sebuah arti pengertian, kejujuran, dan kesetiaan yang hakiki hanya pada-Nya. Sekuat apapun kau berusaha menunggu, setia, mempertahankan cinta yang kau miliki saat ini untuk seseorang yang kau cintai. Sekalipun kau menolak, membenci seseorang, jika Allah telah berkehendak engkau bersamanya dengan ikatan yang halal, engkau takkan bisa menghindar dan mengelak takdir-Nya.  Robbi.. Aku percaya jika Engkau meridhoi suatu cinta, Engkau tak akan menggerakkan hanya satu hati dalam satu waktu, tapi engkau akan menggerakkan hati keduanya untuk saling bertemu.                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar